Pages

Minggu, 28 Oktober 2012

PENCIPTAAN MANUSIA

وَإِذْقَالَرَبُّكَلِلْمَلاَئِكَةِإِنِّيجَاعِلٌ فِيالأَرْضِخَلِيفَةًقَالُواْأَتَجْعَلُفِيهَا مَنيُفْسِدُفِيهَاوَيَسْفِكُالدِّمَاءوَنَحْنُنُسَبِّحُبِحَمْدِكَوَنُقَدِّسُلَكَ قَالَإِنِّيأَعْلَمُمَا لاَتَعْلَمُونَ

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:` Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi `. Mereka berkata:` Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? `Tuhan berfirman:` Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al Baqarah : 30)

Ketika Allah swt. memberitahukan kepada para malaikat-Nya bahwa Dia akan menjadikan Adam a.s sebagai khalifah di bumi, maka para malaikat itu bertanya, mengapa Adam a.s yang akan diangkat menjadi khalifah di bumi padahal Adam a.s itu dari keturunannya kelak akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi. Dan para malaikat itu menganggap bahwa diri mereka adalah lebih patut memangku jabatan itu, sebab mereka makhluk yang selalu bertasbih, memuji dan menyucikan Allah swt.

Allah swt. tidak membenarkan anggapan mereka itu dan Dia menjawab bahwa Dia mengetahui yang tidak diketahui oleh para malaikat itu. Apa-apa yang akan dilakukan Allah swt. adalah berdasarkan pengetahuan dan hikmah-Nya yang Maha Tinggi walaupun tak dapat diketahui oleh mereka, termasuk pengangkatan Adam a.s menjadi khalifah di bumi. Kedudukannya sebagai khalifah atau wakil Allah swt. di bumi ini, untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala apa yang ada padanya. Maka Allah mulai menciptakan Adam AS sebagai manusia pertama, diciptakan Hawa sebagai pasangannya hingga mereka berdua peranak-pinak menghasilkan generasi di bumi. 

I. Penciptaan Adam AS 


الَّذِيأَحْسَنَكُلَّشَيْءٍخَلَقَهُ وَبَدَأَخَلْقَالْإِنسَانِمِن طِينٍثُمَّجَعَلَنَسْلَهُمِنسُلَالَةٍمِّن مَّاءمَّهِينٍ



ثُمَّسَوَّاهُوَنَفَخَفِيهِ مِنرُّوحِهِوَجَعَلَلَكُمُالسَّمْعَوَالْأَبْصَارَوَالْأَفْئِدَةَقَلِيلًامَّا تَشْكُرُونَ


"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As Sajdah : 7-9)


وَلَقَدْخَلَقْنَاالإِنسَانَمِن صَلْصَالٍمِّنْحَمَإٍمَّسْنُونٍ

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (QS. Al Hijr : 26)

إن الله عزوجل خلق آدم من فبضة من قبضها من جميع الأرض فجاء بنو آدم على قدر الأرض فجاء منهم الأحمر والأسود وبين  ذلك والسهل والحزن والطيب والخبيث

"Sesungguhnya Allah 'azza wajalla telah menciptakan Adam dari kepalan tanah yang diambil dari segala macam tanah, maka lahirlah anak Adam menurut kadar tanah itu di antara mereka ada yang merah, ada yang hitam dan ada di antara kedua warna itu, ada yang mudah, ada yang sukar ada yang baik dan ada yang buruk". (HR. Ahmad dan Muslim dari A'isyah)

II. Penciptaan Hawa

Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan teman hidup (isteri).

يَاأَيُّهَاالنَّاسُاتَّقُواْرَبَّكُمُالَّذِيخَلَقَكُممِّننَّفْسٍوَاحِدَةٍوَخَلَقَمِنْهَازَوْجَهَاوَبَثَّ

مِنْهُمَارِجَالاًكَثِيرًاوَنِسَاءوَاتَّقُواْاللّهَالَّذِيتَسَاءلُونَبِهِوَالأَرْحَامَإِنَّاللّهَكَانَ عَلَيْكُمْرَقِيبًا

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." ( QS. An Nisaa : 1)

Hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya.

III. Penciptaan Keturunan Manusia


وَلَقَدْخَلَقْنَاالْإِنسَانَمِن سُلَالَةٍمِّن طِينٍ . ثُمَّجَعَلْنَاهُنُطْفَةًفِي قَرَارٍمَّكِينٍ

ثُمَّخَلَقْنَاالنُّطْفَةَعَلَقَةً فَخَلَقْنَاالْعَلَقَةَمُضْغَةًفَخَلَقْنَاالْمُضْغَةَعِظَامًافَكَسَوْنَاالْعِظَامَلَحْمًاثُمَّأَنشَأْنَاهُخَلْقًاآخَرَفَتَبَارَكَاللَّهُأَحْسَنُالْخَالِقِينَ

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." ( QS. Al Mu'minuun : 12-14)

Sebenarnya air mani itupun berasal dari tanah setelah melalui beberapa proses perkembangan. Makanan yang merupakan hasil bumi, yang di makan oleh manusia, dalam alat pencernaannya berubah menjadi cairan yang bercampur dengan darah yang menyalurkan bahan-bahan hidup dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia ke seluruh bagian anggotanya. Dan jika manusia itu meninggal dunia dan dimasukkan ke dalam kubur di dalam tanah, maka badannya akan hancur lebur dan kembali menjadi tanah lagi.

Kemudian  saripati air mani itu ditempatkan dalam tulang rusuk sang suami yang dalam persetubuhan dengan istrinya ditumpahkan ke dalam rahimnya, suatu tempat penyimpanan yang kokoh bagi janin sampai saat kelahirannya.

Kemudian air mani itu berkembang dalam beberapa minggu sehingga menjadi segumpal darah, dari darah  menjadi segumpal daging, dan segumpal daging itu ada bagian dalamnya yang  menjaditulang belulang, dan ada bagian lain unsur daging yang berbentuk daging. Tulang belulang itu dibungkus dengan daging, laksana pakaian penutup tubuh sehungga jadilah makhluk yang (berbentuk) lain. Setelah ditiupkan Roh ke dalamnya, sehingga menjadi manusia yang sempurna, dapat berbicara, melihat, mendengar, berpikir yang tadinya hanya merupakan benda mati saja.

Selasa, 23 Oktober 2012

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA



بَدِيعُالسَّمَاوَاتِوَالأَرْضِأَنَّىيَكُونُلَهُ وَلَدٌوَلَمْتَكُن لَّهُصَاحِبَةٌوَخَلَقَكُلَّشَيْءٍوهُوَ بِكُلِّشَيْءٍعَلِيمٌ

"Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-An'am : 101)



وَالسَّمَاءبَنَيْنَاهَابِأَيْدٍوَإِنَّالَمُوسِعُونَ

"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa." (QS. Adz Dzaariyaat :47)

Maha Besar Allah yang telah menciptakan alam semesta berikut isinya dalam keadaan yang sempurna. Allah SWT dalam Al Qur’an telah menerangkan ayat-ayat penciptaan jagat raya sebagai bukti Kebesaran-Nya. Alam semesta adalah mencakup tentang mikrokosmos (benda-benda yang berukuran yang sangat kecil, misalnya atom, elektron, sel, amuba) dan Makrokosmos (benda-benda yang ukurannya sangat besar, misalnya bintang, planet, galaksi). Para ahli astronomi mengistilahkan alam semesta (universum) adalah ruang angkasa dengan segala zat dan energi yang ada didalamnya. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, manusia telah mencoba menguraikan tentang teori asal-usul alam semesta, diantaranya yang terkenal sebagai berikut :


1. Teori Kabut (Theory Nebulae)

Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688-1772) tahun 1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant (1724-1804) pada tahun 1775. Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace secara independen pada tahun 1796. Hipotesis ini, yang lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-Laplace, menyebutkan bahwa pada tahap awal Tata Surya masih berupa kabut raksasa yang terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula, serta unsur gas yang sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya menyebabkan kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas, dan akhirnya menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari raksasa terus menyusut dan berputar semakin cepat, dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam dan planet luar. Laplace berpendapat bahwa orbit berbentuk hampir melingkar dari planet-planet merupakan konsekuensi dari pembentukan mereka.


2. Teori Dentuman Besar (Big Bang Theory)

Pencipta teori ini adalah George Lemaitre (1920-an) seorang ahli astronomi Belgia. Ia menyatakan bahwa kira-kira 15 milyar tahun yang lalu semua materi di angkasa menyatu dan memadat (terkondensasi) membentuk satu bentukan yang mengecil. Selanjutnya massa yang mengecil ini meledak dengan ledakan yang hebat, kemudian partikel-partikel dari zat itu bertaburan ke semua arah dan membentuk alam semesta. Menurut teori tersebut, alam semesta ini telah diciptakan kira-kira 10 hingga 20 milyar tahun yang lalu. Ia terbentuk dari ledakan-ledakan kosmik yang bertaburan ke seluruh arah di alam makrokosmos.

Teori Big Bang ini kemudian diperjelas dengan ditemukannya bahwa alam semesta ini mengembang seolah-olah melarikan diri dari kita dengan kecepatan yang sangat tinggi. Teori ini dikemukakan oleh Edwin Hubble seorang ahli astronomi di Observatorium Mount Wilson. Menurutnya, bahwa galaksi yang telah diamati sebenarnya menjauhi kita dan menjauhi yang lain dengan kecepatan samapi beberapa ribu km per detik.


3. Teori Awan Kabut

Dikemukan oleh Carl Von Weeizsaker (1940) dan disempurnakan oleh Gerard P Kuiper (1950). Tata surya terbentuk oloeh gumpalan awan gas dan debu. Gumpalan awan itu mengalami pemampatan, pada proses pemampatan itu partikel-partikel debu tertarik pada bagian pusat awan membentuk gumpalan bola dan mulai berpilin kemudian membentuk cakram yang tebal di bagian tengah dan tipis di bagian tepinya. Partikel-partikel di bagian tengah cakram itu saling menekan dan menimbulkan panas dan berpijar, bagian inilah yang kemudian menjadi matahari, sementara bagian yang luar berputar sangat cepat kemudian menjadi gumpalan yang lebih kecil, gumpalan kecil ini berpilin pula dan membeku kemudian menjadi planet-planet.

Secara garis besar teori-teori dalam ilmu astronomi, baik yang berdasarkan pengamatan maupun berupa teori, dengan jelas menunjukkan bahwa pada suatu saat seluruh alam semesta masih berupa 'gumpalan asap' (yaitu komposisi gas yang sangat rapat dan tak tembus pandang, The First Three Minutes, a Modern View of the Origin of the Universe, Weinberg, hal. 94-105.). Hal ini merupakan sebuah prinsip yang tak diragukan lagi menurut standar astronomi moderen. Para ilmuwan sekarang dapat melihat pembentukan bintang-bintang baru dari peninggalan 'gumpalan asap' semacam itu. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT di dalam Al Qur'an :


ثُمَّاسْتَوَىإِلَىالسَّمَاءوَهِيَ دُخَانٌفَقَالَلَهَاوَلِلْأَرْضِاِئْتِيَاطَوْعًاأَوْكَرْهًاقَالَتَاأَتَيْنَاطَائِعِينَ

فَقَضَاهُنَّسَبْعَسَمَاوَاتٍفِي يَوْمَيْنِوَأَوْحَىفِي كُلِّسَمَاءأَمْرَهَاوَزَيَّنَّاالسَّمَاءالدُّنْيَابِمَصَابِيحَوَحِفْظًاذَلِكَتَقْدِيرُ الْعَزِيزِالْعَلِيمِ

"Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi : "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati."(11) Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."(12) (QS. AL Fushshilat : 11-12)

Karena bumi dan langit di atasnya (matahari, bulan, bintang, planet, galaksi dan lain-lain) terbentuk dari 'gumpalan asap' yang sama, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa matahari dan bumi dahulu merupakan satu kesatuan. Kemudian mereka berpisah dan terbentuk dari 'asap' yang homogen ini. Allah telah berfirman:

أَوَلَمْيَرَالَّذِينَكَفَرُواأَنَّ السَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَكَانَتَارَتْقًافَفَتَقْنَاهُمَاوَجَعَلْنَامِنَ الْمَاءكُلَّشَيْءٍحَيٍّأَفَلَايُؤْمِنُونَ

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"  (QS. Al-Anbiya' : 30)

Kemudian Allah SWT menata peredaran tiap-tiap benda angkasa pada garis edarnya. Matahari sebagai pusat edar dan planet-planet mengitarinya (evolusi) sekaligus berputar pada garis porosnya sendiri (rotasi).


وَآيَةٌلَّهُمْاللَّيْلُنَسْلَخُمِنْهُالنَّهَارَفَإِذَا هُممُّظْلِمُونَ وَالشَّمْسُتَجْرِيلِمُسْتَقَرٍّلَّهَاذَلِكَتَقْدِيرُالْعَزِيزِالْعَلِيمِ



وَالْقَمَرَقَدَّرْنَاهُمَنَازِلَحَتَّىعَادَكَالْعُرْجُونِالْقَدِيمِلَاالشَّمْسُيَنبَغِيلَهَا أَنتُدْرِكَالْقَمَرَوَلَااللَّيْلُسَابِقُالنَّهَارِوَكُلٌّ فِيفَلَكٍيَسْبَحُونَ

"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui;
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya."
 (QS. Ya Sin : 37-40)

Pada pertengahan abad 16 Galileo Galilei memberikan bukti awal yang dibutuhkan untuk membenarkan teori Nicolaus Copernicus tentang matahari sebagai pusat tata surya. Dengan teleskop yang ia buat sendiri, ia menemukan gejala-gejala alam yang menunjukkan bahwa bumi dan planet berputar mengelilingi matahari. Dengan teori bahwa gerak pasang surut samudra merupakan bukti bahwa Bumi memang berputar di ruang angkasa. Dia menganggap pasang surut adalah konsekuensi alam akibat gerakan Bumi. Logikanya kira-kira begini: jika Bumi tetap diam, bagaimana bisa airnya mengalir terus, naik turun dengan dengan interval teratur di sepanjang pantai?

Hal teori galileo mematahkan pandangan lama penguasa Gereja Katolik pada saat itu yang tidak percaya dengan pandangan kosmologis heliosentris (berpusat pada matahari) yang diperkenalkan Galileo. Gereja lebih percaya pada pandangan yang diwariskan filsuf besar Yunani Aristoteles yang melihat bumi sebagai pusat semesta (geosentris). Hal itu dianggap menentang akal sehat, mengingat manusia dengan mata telanjang melihat matahari mengedari bumi dengan terbit di timur dan tenggelam di barat. Ada pula logika awam yang lain bahwa bila memang bumi berotasi dan begerak, sebuah bola yang dilemparkan tegak lurus ke udara seharusnya tidak akan jatuh kembali ke tangan pelemparnya, melainkan mendarat kembali di kejauhan. Atau argumen  bila memang bumi berotasi, manusia akan menderita pusing karena harus berputar setiap hari.

Apalagi ada kalimat dalam Injil yang seolah-olah memberi pembenaran soal itu. Sebuah ayat menyatakan : “Oh Tuhanku, Kaulah yang Mahabesar . . . Kau pancangkan bumi pada dasarnya, tidak bergerak untuk selamanya (Mazmur 104: 1-5).” Gereja berkeras bahwa Al-Kitab menyatakan dengan tegas bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi. Dalam Injil juga termuat kutipan pernyataan (Nabi) Sulaiman: “matahari terbit dan matahari tenggelam dan bergegas kembali ke tempatnya terbit.”

Teori Galileo membuatnya menjadi tahanan rumah dan pemikirannya terkubur cukup lama, hingga manusia memasuki jaman modern dan kini telah mampu membuktikan kebenaran teori Galileo.

Al Qur’an yang telah diturunkan pada Nabi Muhammad SAW 14 abad silam telah memberitakan kabar penciptaan alam semesta ini, jauh sebelum teknologi modern dapat mengambil bukti kebenaran penciptaan alam semesta. Salah satu ahli ilmu bumi terkemuka Dr. Alfred Kroner seorang Profesor Geologi dan Kepala Departemen Geologi pada Institute of Geosciences, Johannes Gutenberg University, Mainz, Jerman berkata: "Jika menilik tempat asal Muhammad. Saya pikir sangat tidak mungkin jika ia bisa mengetahui sesuatu semisal asal mula alam semesta dari materi yang satu, karena para ilmuwan saja baru mengetahui hal ini dalam beberapa tahun yang lalu melalui berbagai cara yang rumit dan dengan teknologi mutakhir. Inilah kenyataannya." Ia juga berkata, "Seseorang yang tidak mengetahui apapun tentang fisika inti 14 abad yang lalu, menurut saya, tidak akan pernah bisa mengetahui, melalui pemikirannya sendiri, bahwa dulunya bumi dan langit berasal dari hal yang satu." Inilah tanda kebenaran Al Quran yang telah diwahyukan pada Rasulallah Muhammad SAW, sungguh Maha Besar Allah atas segala ciptaan-Nya.

Minggu, 21 Oktober 2012

PENCIPTAAN BUMI

Allah SWT telah menciptakan bumi beserta isinya bagi kehidupan manusia. Bumi telah Allah ciptakan dalam 6 masa sebagaimana telah Allah firmankan dalam surat An-Naziat 27-33 :

.أَأَنتُمْأَشَدُّخَلْقًاأَمِالسَّمَاءبَنَاهَا. رَفَعَسَمْكَهَافَسَوَّاهَا. وَأَغْطَشَلَيْلَهَاوَأَخْرَجَضُحَاهَا


.وَالْأَرْضَبَعْدَذَلِكَدَحَاهَا.أَخْرَجَمِنْهَامَاءهَاوَمَرْعَاهَا.وَالْجِبَالَأَرْسَاهَا.مَتَاعًالَّكُمْوَلِأَنْعَامِكُمْ

”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya (27). Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya (28). dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang (29). Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya (30). Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya (31).Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh (32). (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu (33).” (Q.S. An-Nazi’at: 27-33)

Dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan enam masa, Surat An-Nazi’at ayat 27-33 tersebut dapat menjelaskan tahapan enam masa secara kronologis. Urutan masa tersebut sesuai dengan urutan ayatnya, coba diuraikan sebagai berikut:

I. Masa Penciptaan Alam Semesta 

”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya” (27)

Alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar yang disebut ”big bang”, kira-kira 13,7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori ini ialah adanya radiasi kosmik di langit yang berasal dari semua arah. Bigbang adalah awal penciptaan ruang, waktu, dan materi. Materi awal yang terbentuk adalah Hidrogen yang menjadi bahan pembentuk bintang, dalam bahasa Al-Quran disebut dukhan. Awan hidrogen raksasa itu berkondensasi sambil berputar pada porosnya dan memadat. Ketika temperatur dukhan mencapai 20 juta derajat celcius, mulailah terjadi reaksi nuklir yang membentuk Helium. Reaksi nuklir inilah yang menjadi sumber energi bintang dengan mengikuti persamaan E=mc2, besarnya energi yang dipancarkan sebanding dengan selisih massa (m) Hidrogen dan Helium.

Selanjutnya, angin bintang menyembur dari kedua kutub bakal bintang itu (protostar), menyebar dan menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, selimut gas yang tersisa berupa piringan bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu saat, gumpalan kabut raksasa itu meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan nebula-nebula. Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun, nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan nama Galaksi Bima Sakti, kemudian membentuk sistem tata surya. Sementara itu, bagian ringan yang terlempar ke luar tadi mengalami kondensasi sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat. Kemudian, gumpalan-gumpalan itu membentuk planet-planet, termasuk planet bumi.


II. Masa Perkembangan Alam Semesta 

”Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya” (28)

Dalam ayat 28 di atas terdapat kata ”meninggikan bangunan” dan ”menyempurnakan”. Kata ”meninggikan bangunan” ditafsirkan dengan alam semesta yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat makin tinggi. Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin mengembang, dengan kismis tersebut dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut mengembang maka kismis tersebut pun akan semakin menjauh satu sama lain.

Mengembangnya alam semesta sebenarnya adalah kelanjutan big bang. Jadi, pada dasarnya big bang bukanlah ledakan dalam ruang (seperti meledaknya bom), melainkan proses pengembangan ruang alam semesta secara cepat. Sedangkan kata ”menyempurnakan”, menunjukkan bahwa alam ini tidak serta merta terbentuk, melainkan dalam proses evolusi yang terus berlangsung. Tercipta dan hancurnya bintang yang terus terjadi. Penyempurnaan alam terus berlangsung.


III. Masa Pembentukan Tata Surya

”Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang” (29)

Surat An-Nazi’ayat 29 menyebutkan bahwa Allah menjadikan malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam. Pembentukan tata surya sama dengan proses pembentukan bintang umumnya, dari dukhan, walau sudah tidak murni Hidrogen lagi. Planet dan bintang-bintang digerakkan pada jalur edarnya masing-masing, hingga terjadi keseimbangan.


وَهُوَالَّذِيخَلَقَاللَّيْلَوَالنَّهَارَوَالشَّمْسَوَالْقَمَرَكُلٌّ فِي فَلَكٍيَسْبَحُونَ


"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (QS. Al Anbiya : 33)


Kekuasaan-Nya dalam menciptakan waktu malam dan siang, serta matahari yang bersinar di waktu siang, dan bulan bercahaya di waktu malam. Masing-masing beredar pada garis edarnya dalam ruang cakrawala yang amat luas yang hanya Allahlah yang mengetahui batas-batasnya.


Adanya waktu siang dan malam disebabkan karena perputaran bumi pada sumbunya (rotasi), di samping peredarannya mengelilingi matahari (revolusi) pada saat yang bersamaan. Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari mengalami waktu siang, sedang bagiannya yang tidak mendapatkan sinar matahari tersebut mengalami waktu malam. Sedang cahaya bulan adalah sinar matahari yang dipantulkan bulan ke bumi. Di samping itu, bulan juga beredar mengelilingi bumi.


IV. Masa Evolusi Bumi 

“Bumi sesudah itu dihamparkan-Nya” (30)

Penghamparan yang disebutkan dalam ayat 30, dapat diartikan sebagai pembentukan Superkontinen Pangaea di permukaan Bumi yang kemudian terpisah-pisah menjadi beberapa benua.

Ukuran Bumi telah ditentukan dengan cara yang memungkinkan bagi kehidupan manusia. Jika ukurannya sedikit lebih kecil, maka gravitasi akan jauh lebih lemah, atmosfer planet akan terpecah dan menghilang. Manusia tidak akan mampu untuk tetap stabil di dunia. Jika bumi lebih besar, gravitasi akan cukup meningkat dan berbagai gas beracun akan membuat atmosfer mematikan, dan manusia tidak mampu bergerak. Kondisi yang menggabungkan secara halus di mana tidak ada cara bahkan satu dari mereka bisa muncul secara kebetulan. Para ilmuwan telah menghitung kemungkinan peristiwa semacam itu sebagai 1 dalam 10.123,1 Jelasnya, pembentukan secara kebetulan dari lingkungan yang cocok bagi kehidupan adalah tidak mungkin. Allah SWT menciptakan dan mengendalikan segala sesuatu, membuat bintang dan planet yang cocok untuk kehidupan, mengatur komposisi gas untuk bernapas dalam ukuran tertentu, atau gravitasi atau matahari semua kondisi secara terperinci yang diperlukan untuk kehidupan manusia, sebagaimana firman-Nya :


الَّذِيلَهُ مُلْكُالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِوَلَمْيَتَّخِذْوَلَدًاوَلَمْ يَكُنلَّهُشَرِيكٌ فِيالْمُلْكِوَخَلَقَكُلَّشَيْءٍفَقَدَّرَهُتَقْدِيرًا

"Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (QS. Al-Furqan : 2)


V. Masa Terciptanya Atsmosfer Bumi & Vegetasi Awal

”Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya” (31)

Ayat ini menceritakan mulai adanya air di bumi sebagai sumber kehidupan dan munculnya tumbuhan. Allah SWT ciptakan atmosfer yang menyelimuti bumi, membuatnya berlapis-lapis sebagai pelindung permukaan bumi dan tempat awan-awan berkumpul. 



وَجَعَلْنَاالسَّمَاءسَقْفًامَّحْفُوظًاوَهُمْ عَنْآيَاتِهَامُعْرِضُونَ

"Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya." (QS Al-Anbiya : 32)


Atmosfir yang melingkupi bumi berperan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup.

Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi. Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar 270 derajat celcius di bawah nol.



أَلَمْتَرَ أَنَّاللَّهَيُزْجِيسَحَابًاثُمَّيُؤَلِّفُبَيْنَهُثُمَّيَجْعَلُهُرُكَامًافَتَرَىالْوَدْقَيَخْرُجُمِنْخِلَالِهِوَيُنَزِّلُمِنَ السَّمَاءمِن جِبَالٍفِيهَا 

مِنبَرَدٍفَيُصِيبُبِهِ مَنيَشَاءوَيَصْرِفُهُعَن مَّن يَشَاءيَكَادُسَنَابَرْقِهِيَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ


"Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (QS An-Nuur : 43)

Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut :
  1. Pergerakan awan oleh angin.Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.
  2. Pembentukan awan yang lebih besar. Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.
  3. Pembentukan awan yang bertumpang tindih 
  4. Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air.
Umur bumi telah mencapai kurang lebih 4,5 milyar tahun, bersama planet-planet lain membentuk sistem tata surya yang berpusat pada matahari. Microorganisme sederhana baru mulai muncul pada 3,5 milyar tahun yang lalu, microorganisme uniseluler seperti ganggang dan bakteri. Kemudian munculnya microorganisme multiseluler yang bersel banyak pada sekitar 1 juta tahun yang lalu disusul dengan tumbuhnya tumbuhan berbiji.


وَأَنزَلْنَامِنَالْمُعْصِرَاتِمَاء ثَجَّاجًا لِنُخْرِجَبِهِ حَبًّاوَنَبَاتًا وَجَنَّاتٍأَلْفَافًا

"dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat ?" ( QS. An Nabaa : 14-16)



VI. Masa Diciptakannya Kehidupan di Bumi 

”Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” (32)
”(semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” (33)

Dalam ayat 32 di atas, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan daratan, pembentukan lautan air, dan munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung terbentuk dari interaksi antar lempeng ketika superkontinen Pangaea mulai terpecah. Kemudian, setelah gunung mulai terbentuk, terciptalah hewan dan akhirnya diturunkannya manusia awal (Nabi Adam AS) pada suatu masa.

Jika diurutkan dari Masa III hingga Masa VI, maka empat masa tersebut dapat dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang berbunyi,




وَجَعَلَفِيهَارَوَاسِيَمِنفَوْقِهَا وَبَارَكَفِيهَاوَقَدَّرَفِيهَاأَقْوَاتَهَافِيأَرْبَعَةِأَيَّامٍسَوَاء لِّلسَّائِلِينَ


”Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” ( QS. Fushshilat :10)

Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami proses secara bertahap hingga terbentuk seperti sekarang ini. Ada tiga tahap dalam proses pembentukan bumi, yaitu: 

  1. Awalnya, bumi masih merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau perbedaan unsur.
  2. Pembentukan perlapisan struktur bumi yang diawali dengan terjadinya diferensiasi. Material besi yang berat jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih ringan akan bergerak ke permukaan.
  3.  Bumi terbagi menjadi lima lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi.
وَجَعَلْنَافِيالْأَرْضِرَوَاسِيَأَن تَمِيدَبِهِمْوَجَعَلْنَافِيهَافِجَاجًاسُبُلًالَعَلَّهُمْيَهْتَدُونَ


"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk." (QS Al-Anbiya' : 31)

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi. Menurut penemuan geologi modern, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.

Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)

Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai "pasak."


أَلَمْنَجْعَلِالْأَرْضَمِهَادًا.وَالْجِبَالَأَوْتَادًا

"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (QS An-Naba' : 6-7)

Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah "isostasi”, yaitu kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster's New Twentieth Century Dictionary, 2. edition "Isostasy", New York, s. 975)

Allah SWT telah cukupkan sumber-sumber kehidupan bagi manusia di bumi, bukti Maha Kasih dan Maha Sayang-Nya. Senantiasanyalah kita sebagai mahkluk yang lemah ini, selalu bersyukur dan taat akan segala perintah-Nya.