Pages

Selasa, 23 Oktober 2012

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA



بَدِيعُالسَّمَاوَاتِوَالأَرْضِأَنَّىيَكُونُلَهُ وَلَدٌوَلَمْتَكُن لَّهُصَاحِبَةٌوَخَلَقَكُلَّشَيْءٍوهُوَ بِكُلِّشَيْءٍعَلِيمٌ

"Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-An'am : 101)



وَالسَّمَاءبَنَيْنَاهَابِأَيْدٍوَإِنَّالَمُوسِعُونَ

"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa." (QS. Adz Dzaariyaat :47)

Maha Besar Allah yang telah menciptakan alam semesta berikut isinya dalam keadaan yang sempurna. Allah SWT dalam Al Qur’an telah menerangkan ayat-ayat penciptaan jagat raya sebagai bukti Kebesaran-Nya. Alam semesta adalah mencakup tentang mikrokosmos (benda-benda yang berukuran yang sangat kecil, misalnya atom, elektron, sel, amuba) dan Makrokosmos (benda-benda yang ukurannya sangat besar, misalnya bintang, planet, galaksi). Para ahli astronomi mengistilahkan alam semesta (universum) adalah ruang angkasa dengan segala zat dan energi yang ada didalamnya. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, manusia telah mencoba menguraikan tentang teori asal-usul alam semesta, diantaranya yang terkenal sebagai berikut :


1. Teori Kabut (Theory Nebulae)

Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688-1772) tahun 1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant (1724-1804) pada tahun 1775. Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace secara independen pada tahun 1796. Hipotesis ini, yang lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-Laplace, menyebutkan bahwa pada tahap awal Tata Surya masih berupa kabut raksasa yang terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula, serta unsur gas yang sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya menyebabkan kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas, dan akhirnya menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari raksasa terus menyusut dan berputar semakin cepat, dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam dan planet luar. Laplace berpendapat bahwa orbit berbentuk hampir melingkar dari planet-planet merupakan konsekuensi dari pembentukan mereka.


2. Teori Dentuman Besar (Big Bang Theory)

Pencipta teori ini adalah George Lemaitre (1920-an) seorang ahli astronomi Belgia. Ia menyatakan bahwa kira-kira 15 milyar tahun yang lalu semua materi di angkasa menyatu dan memadat (terkondensasi) membentuk satu bentukan yang mengecil. Selanjutnya massa yang mengecil ini meledak dengan ledakan yang hebat, kemudian partikel-partikel dari zat itu bertaburan ke semua arah dan membentuk alam semesta. Menurut teori tersebut, alam semesta ini telah diciptakan kira-kira 10 hingga 20 milyar tahun yang lalu. Ia terbentuk dari ledakan-ledakan kosmik yang bertaburan ke seluruh arah di alam makrokosmos.

Teori Big Bang ini kemudian diperjelas dengan ditemukannya bahwa alam semesta ini mengembang seolah-olah melarikan diri dari kita dengan kecepatan yang sangat tinggi. Teori ini dikemukakan oleh Edwin Hubble seorang ahli astronomi di Observatorium Mount Wilson. Menurutnya, bahwa galaksi yang telah diamati sebenarnya menjauhi kita dan menjauhi yang lain dengan kecepatan samapi beberapa ribu km per detik.


3. Teori Awan Kabut

Dikemukan oleh Carl Von Weeizsaker (1940) dan disempurnakan oleh Gerard P Kuiper (1950). Tata surya terbentuk oloeh gumpalan awan gas dan debu. Gumpalan awan itu mengalami pemampatan, pada proses pemampatan itu partikel-partikel debu tertarik pada bagian pusat awan membentuk gumpalan bola dan mulai berpilin kemudian membentuk cakram yang tebal di bagian tengah dan tipis di bagian tepinya. Partikel-partikel di bagian tengah cakram itu saling menekan dan menimbulkan panas dan berpijar, bagian inilah yang kemudian menjadi matahari, sementara bagian yang luar berputar sangat cepat kemudian menjadi gumpalan yang lebih kecil, gumpalan kecil ini berpilin pula dan membeku kemudian menjadi planet-planet.

Secara garis besar teori-teori dalam ilmu astronomi, baik yang berdasarkan pengamatan maupun berupa teori, dengan jelas menunjukkan bahwa pada suatu saat seluruh alam semesta masih berupa 'gumpalan asap' (yaitu komposisi gas yang sangat rapat dan tak tembus pandang, The First Three Minutes, a Modern View of the Origin of the Universe, Weinberg, hal. 94-105.). Hal ini merupakan sebuah prinsip yang tak diragukan lagi menurut standar astronomi moderen. Para ilmuwan sekarang dapat melihat pembentukan bintang-bintang baru dari peninggalan 'gumpalan asap' semacam itu. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT di dalam Al Qur'an :


ثُمَّاسْتَوَىإِلَىالسَّمَاءوَهِيَ دُخَانٌفَقَالَلَهَاوَلِلْأَرْضِاِئْتِيَاطَوْعًاأَوْكَرْهًاقَالَتَاأَتَيْنَاطَائِعِينَ

فَقَضَاهُنَّسَبْعَسَمَاوَاتٍفِي يَوْمَيْنِوَأَوْحَىفِي كُلِّسَمَاءأَمْرَهَاوَزَيَّنَّاالسَّمَاءالدُّنْيَابِمَصَابِيحَوَحِفْظًاذَلِكَتَقْدِيرُ الْعَزِيزِالْعَلِيمِ

"Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi : "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati."(11) Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."(12) (QS. AL Fushshilat : 11-12)

Karena bumi dan langit di atasnya (matahari, bulan, bintang, planet, galaksi dan lain-lain) terbentuk dari 'gumpalan asap' yang sama, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa matahari dan bumi dahulu merupakan satu kesatuan. Kemudian mereka berpisah dan terbentuk dari 'asap' yang homogen ini. Allah telah berfirman:

أَوَلَمْيَرَالَّذِينَكَفَرُواأَنَّ السَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَكَانَتَارَتْقًافَفَتَقْنَاهُمَاوَجَعَلْنَامِنَ الْمَاءكُلَّشَيْءٍحَيٍّأَفَلَايُؤْمِنُونَ

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"  (QS. Al-Anbiya' : 30)

Kemudian Allah SWT menata peredaran tiap-tiap benda angkasa pada garis edarnya. Matahari sebagai pusat edar dan planet-planet mengitarinya (evolusi) sekaligus berputar pada garis porosnya sendiri (rotasi).


وَآيَةٌلَّهُمْاللَّيْلُنَسْلَخُمِنْهُالنَّهَارَفَإِذَا هُممُّظْلِمُونَ وَالشَّمْسُتَجْرِيلِمُسْتَقَرٍّلَّهَاذَلِكَتَقْدِيرُالْعَزِيزِالْعَلِيمِ



وَالْقَمَرَقَدَّرْنَاهُمَنَازِلَحَتَّىعَادَكَالْعُرْجُونِالْقَدِيمِلَاالشَّمْسُيَنبَغِيلَهَا أَنتُدْرِكَالْقَمَرَوَلَااللَّيْلُسَابِقُالنَّهَارِوَكُلٌّ فِيفَلَكٍيَسْبَحُونَ

"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui;
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya."
 (QS. Ya Sin : 37-40)

Pada pertengahan abad 16 Galileo Galilei memberikan bukti awal yang dibutuhkan untuk membenarkan teori Nicolaus Copernicus tentang matahari sebagai pusat tata surya. Dengan teleskop yang ia buat sendiri, ia menemukan gejala-gejala alam yang menunjukkan bahwa bumi dan planet berputar mengelilingi matahari. Dengan teori bahwa gerak pasang surut samudra merupakan bukti bahwa Bumi memang berputar di ruang angkasa. Dia menganggap pasang surut adalah konsekuensi alam akibat gerakan Bumi. Logikanya kira-kira begini: jika Bumi tetap diam, bagaimana bisa airnya mengalir terus, naik turun dengan dengan interval teratur di sepanjang pantai?

Hal teori galileo mematahkan pandangan lama penguasa Gereja Katolik pada saat itu yang tidak percaya dengan pandangan kosmologis heliosentris (berpusat pada matahari) yang diperkenalkan Galileo. Gereja lebih percaya pada pandangan yang diwariskan filsuf besar Yunani Aristoteles yang melihat bumi sebagai pusat semesta (geosentris). Hal itu dianggap menentang akal sehat, mengingat manusia dengan mata telanjang melihat matahari mengedari bumi dengan terbit di timur dan tenggelam di barat. Ada pula logika awam yang lain bahwa bila memang bumi berotasi dan begerak, sebuah bola yang dilemparkan tegak lurus ke udara seharusnya tidak akan jatuh kembali ke tangan pelemparnya, melainkan mendarat kembali di kejauhan. Atau argumen  bila memang bumi berotasi, manusia akan menderita pusing karena harus berputar setiap hari.

Apalagi ada kalimat dalam Injil yang seolah-olah memberi pembenaran soal itu. Sebuah ayat menyatakan : “Oh Tuhanku, Kaulah yang Mahabesar . . . Kau pancangkan bumi pada dasarnya, tidak bergerak untuk selamanya (Mazmur 104: 1-5).” Gereja berkeras bahwa Al-Kitab menyatakan dengan tegas bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi. Dalam Injil juga termuat kutipan pernyataan (Nabi) Sulaiman: “matahari terbit dan matahari tenggelam dan bergegas kembali ke tempatnya terbit.”

Teori Galileo membuatnya menjadi tahanan rumah dan pemikirannya terkubur cukup lama, hingga manusia memasuki jaman modern dan kini telah mampu membuktikan kebenaran teori Galileo.

Al Qur’an yang telah diturunkan pada Nabi Muhammad SAW 14 abad silam telah memberitakan kabar penciptaan alam semesta ini, jauh sebelum teknologi modern dapat mengambil bukti kebenaran penciptaan alam semesta. Salah satu ahli ilmu bumi terkemuka Dr. Alfred Kroner seorang Profesor Geologi dan Kepala Departemen Geologi pada Institute of Geosciences, Johannes Gutenberg University, Mainz, Jerman berkata: "Jika menilik tempat asal Muhammad. Saya pikir sangat tidak mungkin jika ia bisa mengetahui sesuatu semisal asal mula alam semesta dari materi yang satu, karena para ilmuwan saja baru mengetahui hal ini dalam beberapa tahun yang lalu melalui berbagai cara yang rumit dan dengan teknologi mutakhir. Inilah kenyataannya." Ia juga berkata, "Seseorang yang tidak mengetahui apapun tentang fisika inti 14 abad yang lalu, menurut saya, tidak akan pernah bisa mengetahui, melalui pemikirannya sendiri, bahwa dulunya bumi dan langit berasal dari hal yang satu." Inilah tanda kebenaran Al Quran yang telah diwahyukan pada Rasulallah Muhammad SAW, sungguh Maha Besar Allah atas segala ciptaan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar