Allah SWT telah menciptakan bumi beserta isinya bagi kehidupan manusia. Bumi telah Allah ciptakan dalam 6 masa sebagaimana telah Allah firmankan dalam surat An-Naziat 27-33 :
Dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan enam masa, Surat An-Nazi’at ayat 27-33 tersebut dapat menjelaskan tahapan enam masa secara kronologis. Urutan masa tersebut sesuai dengan urutan ayatnya, coba diuraikan sebagai berikut:
Adanya waktu siang dan malam disebabkan karena perputaran bumi pada sumbunya (rotasi), di samping peredarannya mengelilingi matahari (revolusi) pada saat yang bersamaan. Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari mengalami waktu siang, sedang bagiannya yang tidak mendapatkan sinar matahari tersebut mengalami waktu malam. Sedang cahaya bulan adalah sinar matahari yang dipantulkan bulan ke bumi. Di samping itu, bulan juga beredar mengelilingi bumi.
IV. Masa Evolusi Bumi
.أَأَنتُمْأَشَدُّخَلْقًاأَمِالسَّمَاءبَنَاهَا. رَفَعَسَمْكَهَافَسَوَّاهَا. وَأَغْطَشَلَيْلَهَاوَأَخْرَجَضُحَاهَا
.وَالْأَرْضَبَعْدَذَلِكَدَحَاهَا.أَخْرَجَمِنْهَامَاءهَاوَمَرْعَاهَا.وَالْجِبَالَأَرْسَاهَا.مَتَاعًالَّكُمْوَلِأَنْعَامِكُمْ
”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya (27). Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya (28). dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang (29). Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya (30). Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya (31).Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh (32). (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu (33).” (Q.S. An-Nazi’at: 27-33)
I. Masa Penciptaan Alam Semesta
”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya” (27)
Alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar yang disebut ”big bang”, kira-kira 13,7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori ini ialah adanya radiasi kosmik di langit yang berasal dari semua arah. Bigbang adalah awal penciptaan ruang, waktu, dan materi. Materi awal yang terbentuk adalah Hidrogen yang menjadi bahan pembentuk bintang, dalam bahasa Al-Quran disebut dukhan. Awan hidrogen raksasa itu berkondensasi sambil berputar pada porosnya dan memadat. Ketika temperatur dukhan mencapai 20 juta derajat celcius, mulailah terjadi reaksi nuklir yang membentuk Helium. Reaksi nuklir inilah yang menjadi sumber energi bintang dengan mengikuti persamaan E=mc2, besarnya energi yang dipancarkan sebanding dengan selisih massa (m) Hidrogen dan Helium.
Selanjutnya, angin bintang menyembur dari kedua kutub bakal bintang itu (protostar), menyebar dan menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, selimut gas yang tersisa berupa piringan bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu saat, gumpalan kabut raksasa itu meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan nebula-nebula. Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun, nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan nama Galaksi Bima Sakti, kemudian membentuk sistem tata surya. Sementara itu, bagian ringan yang terlempar ke luar tadi mengalami kondensasi sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat. Kemudian, gumpalan-gumpalan itu membentuk planet-planet, termasuk planet bumi.
II. Masa Perkembangan Alam Semesta
”Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya” (28)
Dalam ayat 28 di atas terdapat kata ”meninggikan bangunan” dan ”menyempurnakan”. Kata ”meninggikan bangunan” ditafsirkan dengan alam semesta yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat makin tinggi. Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin mengembang, dengan kismis tersebut dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut mengembang maka kismis tersebut pun akan semakin menjauh satu sama lain.
Mengembangnya alam semesta sebenarnya adalah kelanjutan big bang. Jadi, pada dasarnya big bang bukanlah ledakan dalam ruang (seperti meledaknya bom), melainkan proses pengembangan ruang alam semesta secara cepat. Sedangkan kata ”menyempurnakan”, menunjukkan bahwa alam ini tidak serta merta terbentuk, melainkan dalam proses evolusi yang terus berlangsung. Tercipta dan hancurnya bintang yang terus terjadi. Penyempurnaan alam terus berlangsung.
III. Masa Pembentukan Tata Surya
”Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang” (29)
Surat An-Nazi’ayat 29 menyebutkan bahwa Allah menjadikan malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam. Pembentukan tata surya sama dengan proses pembentukan bintang umumnya, dari dukhan, walau sudah tidak murni Hidrogen lagi. Planet dan bintang-bintang digerakkan pada jalur edarnya masing-masing, hingga terjadi keseimbangan.
"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (QS. Al Anbiya : 33)
”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya” (27)
Alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar yang disebut ”big bang”, kira-kira 13,7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori ini ialah adanya radiasi kosmik di langit yang berasal dari semua arah. Bigbang adalah awal penciptaan ruang, waktu, dan materi. Materi awal yang terbentuk adalah Hidrogen yang menjadi bahan pembentuk bintang, dalam bahasa Al-Quran disebut dukhan. Awan hidrogen raksasa itu berkondensasi sambil berputar pada porosnya dan memadat. Ketika temperatur dukhan mencapai 20 juta derajat celcius, mulailah terjadi reaksi nuklir yang membentuk Helium. Reaksi nuklir inilah yang menjadi sumber energi bintang dengan mengikuti persamaan E=mc2, besarnya energi yang dipancarkan sebanding dengan selisih massa (m) Hidrogen dan Helium.
Selanjutnya, angin bintang menyembur dari kedua kutub bakal bintang itu (protostar), menyebar dan menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, selimut gas yang tersisa berupa piringan bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu saat, gumpalan kabut raksasa itu meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan nebula-nebula. Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun, nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan nama Galaksi Bima Sakti, kemudian membentuk sistem tata surya. Sementara itu, bagian ringan yang terlempar ke luar tadi mengalami kondensasi sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat. Kemudian, gumpalan-gumpalan itu membentuk planet-planet, termasuk planet bumi.
II. Masa Perkembangan Alam Semesta
”Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya” (28)
Dalam ayat 28 di atas terdapat kata ”meninggikan bangunan” dan ”menyempurnakan”. Kata ”meninggikan bangunan” ditafsirkan dengan alam semesta yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat makin tinggi. Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin mengembang, dengan kismis tersebut dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut mengembang maka kismis tersebut pun akan semakin menjauh satu sama lain.
Mengembangnya alam semesta sebenarnya adalah kelanjutan big bang. Jadi, pada dasarnya big bang bukanlah ledakan dalam ruang (seperti meledaknya bom), melainkan proses pengembangan ruang alam semesta secara cepat. Sedangkan kata ”menyempurnakan”, menunjukkan bahwa alam ini tidak serta merta terbentuk, melainkan dalam proses evolusi yang terus berlangsung. Tercipta dan hancurnya bintang yang terus terjadi. Penyempurnaan alam terus berlangsung.
III. Masa Pembentukan Tata Surya
”Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang” (29)
Surat An-Nazi’ayat 29 menyebutkan bahwa Allah menjadikan malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam. Pembentukan tata surya sama dengan proses pembentukan bintang umumnya, dari dukhan, walau sudah tidak murni Hidrogen lagi. Planet dan bintang-bintang digerakkan pada jalur edarnya masing-masing, hingga terjadi keseimbangan.
وَهُوَالَّذِيخَلَقَاللَّيْلَوَالنَّهَارَوَالشَّمْسَوَالْقَمَرَكُلٌّ فِي فَلَكٍيَسْبَحُونَ
Kekuasaan-Nya dalam menciptakan waktu malam dan siang, serta matahari yang bersinar di waktu siang, dan bulan bercahaya di waktu malam. Masing-masing beredar pada garis edarnya dalam ruang cakrawala yang amat luas yang hanya Allahlah yang mengetahui batas-batasnya.
Adanya waktu siang dan malam disebabkan karena perputaran bumi pada sumbunya (rotasi), di samping peredarannya mengelilingi matahari (revolusi) pada saat yang bersamaan. Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari mengalami waktu siang, sedang bagiannya yang tidak mendapatkan sinar matahari tersebut mengalami waktu malam. Sedang cahaya bulan adalah sinar matahari yang dipantulkan bulan ke bumi. Di samping itu, bulan juga beredar mengelilingi bumi.
IV. Masa Evolusi Bumi
“Bumi sesudah itu dihamparkan-Nya” (30)
Penghamparan yang disebutkan dalam ayat 30, dapat diartikan sebagai pembentukan Superkontinen Pangaea di permukaan Bumi yang kemudian terpisah-pisah menjadi beberapa benua.
Ukuran Bumi telah ditentukan dengan cara yang memungkinkan bagi kehidupan manusia. Jika ukurannya sedikit lebih kecil, maka gravitasi akan jauh lebih lemah, atmosfer planet akan terpecah dan menghilang. Manusia tidak akan mampu untuk tetap stabil di dunia. Jika bumi lebih besar, gravitasi akan cukup meningkat dan berbagai gas beracun akan membuat atmosfer mematikan, dan manusia tidak mampu bergerak. Kondisi yang menggabungkan secara halus di mana tidak ada cara bahkan satu dari mereka bisa muncul secara kebetulan. Para ilmuwan telah menghitung kemungkinan peristiwa semacam itu sebagai 1 dalam 10.123,1 Jelasnya, pembentukan secara kebetulan dari lingkungan yang cocok bagi kehidupan adalah tidak mungkin. Allah SWT menciptakan dan mengendalikan segala sesuatu, membuat bintang dan planet yang cocok untuk kehidupan, mengatur komposisi gas untuk bernapas dalam ukuran tertentu, atau gravitasi atau matahari semua kondisi secara terperinci yang diperlukan untuk kehidupan manusia, sebagaimana firman-Nya :
Penghamparan yang disebutkan dalam ayat 30, dapat diartikan sebagai pembentukan Superkontinen Pangaea di permukaan Bumi yang kemudian terpisah-pisah menjadi beberapa benua.
Ukuran Bumi telah ditentukan dengan cara yang memungkinkan bagi kehidupan manusia. Jika ukurannya sedikit lebih kecil, maka gravitasi akan jauh lebih lemah, atmosfer planet akan terpecah dan menghilang. Manusia tidak akan mampu untuk tetap stabil di dunia. Jika bumi lebih besar, gravitasi akan cukup meningkat dan berbagai gas beracun akan membuat atmosfer mematikan, dan manusia tidak mampu bergerak. Kondisi yang menggabungkan secara halus di mana tidak ada cara bahkan satu dari mereka bisa muncul secara kebetulan. Para ilmuwan telah menghitung kemungkinan peristiwa semacam itu sebagai 1 dalam 10.123,1 Jelasnya, pembentukan secara kebetulan dari lingkungan yang cocok bagi kehidupan adalah tidak mungkin. Allah SWT menciptakan dan mengendalikan segala sesuatu, membuat bintang dan planet yang cocok untuk kehidupan, mengatur komposisi gas untuk bernapas dalam ukuran tertentu, atau gravitasi atau matahari semua kondisi secara terperinci yang diperlukan untuk kehidupan manusia, sebagaimana firman-Nya :
الَّذِيلَهُ مُلْكُالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِوَلَمْيَتَّخِذْوَلَدًاوَلَمْ يَكُنلَّهُشَرِيكٌ فِيالْمُلْكِوَخَلَقَكُلَّشَيْءٍفَقَدَّرَهُتَقْدِيرًا
"Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (QS. Al-Furqan : 2)
V. Masa Terciptanya Atsmosfer Bumi & Vegetasi Awal
”Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya” (31)
Ayat ini menceritakan mulai adanya air di bumi sebagai sumber kehidupan dan munculnya tumbuhan. Allah SWT ciptakan atmosfer yang menyelimuti bumi, membuatnya berlapis-lapis sebagai pelindung permukaan bumi dan tempat awan-awan berkumpul.
V. Masa Terciptanya Atsmosfer Bumi & Vegetasi Awal
”Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya” (31)
Ayat ini menceritakan mulai adanya air di bumi sebagai sumber kehidupan dan munculnya tumbuhan. Allah SWT ciptakan atmosfer yang menyelimuti bumi, membuatnya berlapis-lapis sebagai pelindung permukaan bumi dan tempat awan-awan berkumpul.
وَجَعَلْنَاالسَّمَاءسَقْفًامَّحْفُوظًاوَهُمْ عَنْآيَاتِهَامُعْرِضُونَ
"Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya." (QS Al-Anbiya : 32)
Atmosfir yang melingkupi bumi berperan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup.
Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi. Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar 270 derajat celcius di bawah nol.
أَلَمْتَرَ أَنَّاللَّهَيُزْجِيسَحَابًاثُمَّيُؤَلِّفُبَيْنَهُثُمَّيَجْعَلُهُرُكَامًافَتَرَىالْوَدْقَيَخْرُجُمِنْخِلَالِهِوَيُنَزِّلُمِنَ السَّمَاءمِن جِبَالٍفِيهَا
مِنبَرَدٍفَيُصِيبُبِهِ مَنيَشَاءوَيَصْرِفُهُعَن مَّن يَشَاءيَكَادُسَنَابَرْقِهِيَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ
"Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (QS An-Nuur : 43)
Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut :
- Pergerakan awan oleh angin.Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.
- Pembentukan awan yang lebih besar. Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.
- Pembentukan awan yang bertumpang tindih Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air.
Umur bumi telah mencapai kurang lebih 4,5 milyar tahun, bersama planet-planet lain membentuk sistem tata surya yang berpusat pada matahari. Microorganisme sederhana baru mulai muncul pada 3,5 milyar tahun yang lalu, microorganisme uniseluler seperti ganggang dan bakteri. Kemudian munculnya microorganisme multiseluler yang bersel banyak pada sekitar 1 juta tahun yang lalu disusul dengan tumbuhnya tumbuhan berbiji.
وَأَنزَلْنَامِنَالْمُعْصِرَاتِمَاء ثَجَّاجًا لِنُخْرِجَبِهِ حَبًّاوَنَبَاتًا وَجَنَّاتٍأَلْفَافًا
"dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat ?" ( QS. An Nabaa : 14-16)
VI. Masa Diciptakannya Kehidupan di Bumi
”Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” (32)
”(semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” (33)
Dalam ayat 32 di atas, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan daratan, pembentukan lautan air, dan munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung terbentuk dari interaksi antar lempeng ketika superkontinen Pangaea mulai terpecah. Kemudian, setelah gunung mulai terbentuk, terciptalah hewan dan akhirnya diturunkannya manusia awal (Nabi Adam AS) pada suatu masa.
Jika diurutkan dari Masa III hingga Masa VI, maka empat masa tersebut dapat dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang berbunyi,
وَجَعَلَفِيهَارَوَاسِيَمِنفَوْقِهَا وَبَارَكَفِيهَاوَقَدَّرَفِيهَاأَقْوَاتَهَافِيأَرْبَعَةِأَيَّامٍسَوَاء لِّلسَّائِلِينَ
”Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” ( QS. Fushshilat :10)
Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami proses secara bertahap hingga terbentuk seperti sekarang ini. Ada tiga tahap dalam proses pembentukan bumi, yaitu:
- Awalnya, bumi masih merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau perbedaan unsur.
- Pembentukan perlapisan struktur bumi yang diawali dengan terjadinya diferensiasi. Material besi yang berat jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih ringan akan bergerak ke permukaan.
- Bumi terbagi menjadi lima lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi.
وَجَعَلْنَافِيالْأَرْضِرَوَاسِيَأَن تَمِيدَبِهِمْوَجَعَلْنَافِيهَافِجَاجًاسُبُلًالَعَلَّهُمْيَهْتَدُونَ
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk." (QS Al-Anbiya' : 31)
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi. Menurut penemuan geologi modern, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.
Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)
Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai "pasak."
أَلَمْنَجْعَلِالْأَرْضَمِهَادًا.وَالْجِبَالَأَوْتَادًا
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (QS An-Naba' : 6-7)
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah "isostasi”, yaitu kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster's New Twentieth Century Dictionary, 2. edition "Isostasy", New York, s. 975)
Allah SWT telah cukupkan sumber-sumber kehidupan bagi manusia di bumi, bukti Maha Kasih dan Maha Sayang-Nya. Senantiasanyalah kita sebagai mahkluk yang lemah ini, selalu bersyukur dan taat akan segala perintah-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar